Malam dibirunya Agustus...bulan sabit menyembul malu-malu dari balik awan hitam, tampak buram kala terlihat dibalik jendela kaca....dentingan 'A comme amour' menambah miris suasana cafe temaram itu... di bangku kayu bercat putih dengan meja berhiaskan Viola Grypoceras laki-laki itu tak juga beranjak, ditatap lekat-lekat perempuan di depannya...perempuan yang telah lama kehilangan senyumnya, perempuan bertubuh ringkih dengan mata sembab yang menerawang jauh, pikirannya berkelana entah kemana... ah, betapa dia merindukan perempuan itu...perempuan yang membuatnya tak pernah membuka hati untuk siapapun, perempuan yang mendatangi malam-malamnya diluar kendalinya...perempuan yang terus saja dicintainya...
"makanlah biar sedikit..." disodorkannya sepiring Chicken steak kearah perempuan itu yang langsung disambut dengan gelengan kepala..."kau memanggilku kesini hanya untuk menyuruhku makan?" tanya perempuan itu sarkastis..."apa lagi yang harus kulakukan untukmu?" ujar laki-laki itu mulai putus asa..." mudah....lepaskan saja aku..", ucap perempuan itu pelan namun cukup munghujam jantung..."tak akan pernah!" kata laki-laki itu ketus, diiringi desahan panjang...lalu memalingkan wajahnya menatap gerimis dari balik jendela kaca..."perlukah aku memohon padamu untuk tetap disini?" tercekak suaranya, namun perempuan itu seakan tak perduli, tetap terdiam..."sampai kapan kau akan hidup seperti ini? berhentilah menunggunya...hiduplah bersamaku.." lirih penuh harap, suara laki-laki itu tertutupi gelegar gemuruh..."bagaimana jika aku tak bisa?" ucap perempuan itu pelan, suaranya bergetar, mata sembabnya berkaca-kaca menatap tajam menembus hingga ke relung hati, laki-laki itu susah payah tersenyum, menahan perih..."masih ada hari esok, suatu saat kau akan mencintaiku" ... hening, malam seakan membisu... "yeah, kau benar...masih ada hari esok, suatu saat dia akan datang" ucap perempuan itu kemudian, matanya kembali menerawang jauh pada selaksa senyum dari laki-laki berkulit legam yang dirindukannya...
hujan semakin deras, memerangkapkan dua insan dalam pikirannya masing-masing sementara perih terus menelusup jiwa... ah, waktu merubah segalanya, tapi tidak untuk rasa.
tak jauh, disudut sana...tak ada yang menyadari...sepasang mata sayu milik perempuan berkerudung ungu menatap dari balik jendela kaca berembun... pandangannya nanar kearah laki-laki bermata penuh duka itu...laki-laki yang telah lama dicintainya...laki-laki yang tak pernah benar-benar melihatnya.... "sudahlah...masih ada hari esok, suatu saat dia akan mencintaiku" gumam perempuan itu menghibur diri, dihapusnya air keperakan diwajahnya sementara dentingan 'A comme amour' semakin menyayat hati...dibiarkan tubuhnya basah, berharap dinginnya hujan di malamnya Agustus sanggup menghapus luka, memudarkan pahitnya kenyataan yang baru saja dilihatnya....
beratus-ratus mil jauhnya... laki-laki berlengan kokoh berkulit legam itu menatap rintik hujan dari balik jendela kaca...ingatan membawanya pada seraut wajah ayu bermata sembab dengan senyuman indah... kekasihnya yang entah dimana..."masihkah kau menungguku?" desahnya pilu pada bayangan... serentak ingatannya pudar saat aroma opor ayam yang dimasak istrinya memenuhi seisi rumah..."tak ada hari esok untuk kita, kuharap kau melupakanku" bisiknya dalam hati, berharap angin membawa bisikannya ke telinga perempuan yang pernah begitu dicintainya.... dia tersentak, kala istrinya mendekapnya hangat...penuh cinta.
hujan deras dari balik jendela kaca seakan menumpahkan kepedihan.... cinta, telah menjadi begitu menyiksa.
(Wednesday, September 7, 2011 at 4:45pm)
"makanlah biar sedikit..." disodorkannya sepiring Chicken steak kearah perempuan itu yang langsung disambut dengan gelengan kepala..."kau memanggilku kesini hanya untuk menyuruhku makan?" tanya perempuan itu sarkastis..."apa lagi yang harus kulakukan untukmu?" ujar laki-laki itu mulai putus asa..." mudah....lepaskan saja aku..", ucap perempuan itu pelan namun cukup munghujam jantung..."tak akan pernah!" kata laki-laki itu ketus, diiringi desahan panjang...lalu memalingkan wajahnya menatap gerimis dari balik jendela kaca..."perlukah aku memohon padamu untuk tetap disini?" tercekak suaranya, namun perempuan itu seakan tak perduli, tetap terdiam..."sampai kapan kau akan hidup seperti ini? berhentilah menunggunya...hiduplah bersamaku.." lirih penuh harap, suara laki-laki itu tertutupi gelegar gemuruh..."bagaimana jika aku tak bisa?" ucap perempuan itu pelan, suaranya bergetar, mata sembabnya berkaca-kaca menatap tajam menembus hingga ke relung hati, laki-laki itu susah payah tersenyum, menahan perih..."masih ada hari esok, suatu saat kau akan mencintaiku" ... hening, malam seakan membisu... "yeah, kau benar...masih ada hari esok, suatu saat dia akan datang" ucap perempuan itu kemudian, matanya kembali menerawang jauh pada selaksa senyum dari laki-laki berkulit legam yang dirindukannya...
hujan semakin deras, memerangkapkan dua insan dalam pikirannya masing-masing sementara perih terus menelusup jiwa... ah, waktu merubah segalanya, tapi tidak untuk rasa.
tak jauh, disudut sana...tak ada yang menyadari...sepasang mata sayu milik perempuan berkerudung ungu menatap dari balik jendela kaca berembun... pandangannya nanar kearah laki-laki bermata penuh duka itu...laki-laki yang telah lama dicintainya...laki-laki yang tak pernah benar-benar melihatnya.... "sudahlah...masih ada hari esok, suatu saat dia akan mencintaiku" gumam perempuan itu menghibur diri, dihapusnya air keperakan diwajahnya sementara dentingan 'A comme amour' semakin menyayat hati...dibiarkan tubuhnya basah, berharap dinginnya hujan di malamnya Agustus sanggup menghapus luka, memudarkan pahitnya kenyataan yang baru saja dilihatnya....
beratus-ratus mil jauhnya... laki-laki berlengan kokoh berkulit legam itu menatap rintik hujan dari balik jendela kaca...ingatan membawanya pada seraut wajah ayu bermata sembab dengan senyuman indah... kekasihnya yang entah dimana..."masihkah kau menungguku?" desahnya pilu pada bayangan... serentak ingatannya pudar saat aroma opor ayam yang dimasak istrinya memenuhi seisi rumah..."tak ada hari esok untuk kita, kuharap kau melupakanku" bisiknya dalam hati, berharap angin membawa bisikannya ke telinga perempuan yang pernah begitu dicintainya.... dia tersentak, kala istrinya mendekapnya hangat...penuh cinta.
hujan deras dari balik jendela kaca seakan menumpahkan kepedihan.... cinta, telah menjadi begitu menyiksa.
(Wednesday, September 7, 2011 at 4:45pm)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar