seseorang dibalik kerudung ungu

Foto saya
aku adalah aku sampai tiba waktuku tak ada seorangpun kan tahu........
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2013

Chingu sarang


malam semakin larut, “waltz in sorrow” terngiang jelas dari earphone mengiringi langkah tak jelas kita dan aku masih saja mengamati punggungmu…seperti selalu, berjalan dibelakangmu melewati jalanan penuh genangan air berwarna keperakan karna pantulan lampu jalan, berusaha membaca isi pikiranmu dari balik punggungmu, kadang kupikir seharusnya aku berlari memelukmu, mungkin bisa menjawab segalanya……
kita menyusuri jembatan di pinggir laut, kau tak pernah menggenggam tanganku, entah apa yang kita cari, entah apa yang kau pikirkan… mungkin jawaban akan perasaan kita masing-masing, aneh, Kita bukanlah sepasang kekasih, tapi kita tak juga terpisah, entah bodoh atau tak peka, aku tak pernah menyadarinya,  yang selalu kuingat darimu, hanyalah…kau selalu tersenyum menungguku di depan kelas saat kita masih berseragam abu-abu. Dan kini… setelah terpisah bertahun lamanya, kau masih memiliki senyum yang sama, waktu tak berarti bagi kita, entah kehidupan seperti apa yang telah kau jalani, entah pula kepedihan apa yang telah kualami, sekalipun seluruh isi dunia berubah, kita adalah pengecualian… sesaat kupikir seorang malaikat sedang berdiri dihadapanku, dikirimkan Tuhan sebagai penghibur bagiku… bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkanmu sekalipun suatu saat nanti menghilang dari hidupmu mungkin akan menjadi keharusan?
Kala itu, gelapnya malam tak menghalangi kita menghirup aroma laut, kau tampak seperti seorang kekasih impian yang keluar dari lembaran komik yang sering kubaca saat remaja, entah berapa kali harus kutepis pikiran-pikiran bahwa kau terlalu sempurna untuk kumiliki…ini tak mungkin, aku tak seberuntung itu. Kau mulai menceritakan impian-impianmu, kusimak kata demi kata, berharap aku ada didalamnya, ini pikiran paling liar… karna untuk pertama kalinya, aku melihatmu sebagai seorang laki-laki, kau bukanlah seorang remaja belasan tahun yang selalu menemaniku jalan kaki sepulang sekolah, menungguku mengikat tali sepatu, membagi rotinya untukku, membuatkan PR untukku, bukan pula seseorang yang menangis di ruang UKS yang kuhapus airmatanya, bukan lagi, kau tumbuh dengan baik, menjadi pemuda tampan dengan senyuman hangat dan perangai bak malaikat, tak seperti aku yang tak sepolos dulu… yang kadang tak punya hati. Terlampau naif jika aku mulai menginginkanmu.
Dimanapun kau berada, kadang kau kirimkan gambar laut, langit, gunung… padaku, seakan kau ingin aku merasakan aroma ditempatmu berada. Kupikir… kau menempatkanku diposisi yang sulit, bagaimana jika nanti… aku tak rela melepasmu? Bagaimana jika nanti... aku tak sanggup hadir di upacara pernikahanmu? Bagaimana jika nanti kita terlampau terlambat? harusnya kau jangan terlalu baik padaku, Aku kehilangan kemampuan memilah-milah cinta dan persahabatan, tak mampu lagi menjabarkan defenisi cinta… apa itu? Pertanyaan yang paling sulit kujawab, adalah suara hati sendiri. Yang kutahu, aku terlalu terbiasa bersamamu. Yang kutahu, kau selalu ada. yang kutahu, kaulah, sahabat… yang paling kucinta.  


Haruskah aku menyerah atas nama persahabatan?

Kamis, 06 Juni 2013

seharusnya dia......

siapa yang paling mencintai?
untuk kesekiannya aku bertanya..entah pada siapa, langit-langit di kamarku mungkin sudah bosan mendengarnya.... aku mungkin terlalu sering nonton drama, saking indahnya cinta dalam benakku, hingga tak ada yang bisa memenuhi inginku akan defenisi cinta......
apa itu cinta?
apakah ketika seseorang dalam derasnya hujan membawakan obat-obatan ketika aku sakit? ataukah ketika seseorang menulis puisi dengan kata-kata yang indah? ketika seseorang memakaikan jaketnya ketika aku kedinginan? ataukah seseorang yang menungguku di depan kelas hanya untuk makan di kantin sama-sama?  ketika seseorang memelukku hangat atau mencium keningku disaat aku tertidur?
tak mungkin dari seseorang yang pernah mengulurkan tangannya untuk kuraih, tapi begitu aku ingin menggenggamnya, dia lantas pergi... tak mungkin itu cinta..

 entahlah.... aku kehilangan pemahaman, hatiku membeku, untuk merasa lagi terasa begitu sulit....

apa itu cinta?
mungkinkah seseorang yang bahkan tak pernah menyentuh jemariku? yang kenyataannya dia yang selalu ada.... menungguku mengikat tali sepatu, menemaniku jalan kaki kemana saja, seseorang yang tak sungkan memperlihatkan airmatanya di hadapanku... entahlah.... jika seperti itu, yang kuingat hanyalah seseorang yang bahkan tak pernah kusebut kekasih, dia terlalu mengenalku, kita tumbuh bersama...makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama, bahkan wajahnya yang paling banyak menghias album foto kusam berdebu yang kusimpan di rak paling bawah, hanya saja, hidupnya teramat menyenangkan, sementara aku tak jarang menemui kerikil di sepanjang perjalananku..kita punya mimpi yang sama,.hingga saat kita terpisah, tak jarang dia menuliskan surat yang panjang untukku, isinya menceritakan hidupnya, apa yang dia temui, dijadikannya hidupnya kaca bagiku.... sayangnya, dia tak pernah bertanya apa yang telah kualami.... dia membiarkan orang lain menyentuh hatiku, dia tak pernah tau, airmataku teramat sering kutitikkan untuk yang lain...  padahal, dia yang selalu ada... yang senyumannya menentramkan hatiku, dimanapun dia berada... dia selalu menyapaku... mungkinkah dia? seharusnya dia... kini aku berharap itu dia....  hanya saja, terlalu naif jika kubiarkan dia masuk di kehidupanku yang teramat rumit, kehidupan yang dibentengi tembok tinggi mengurungku menjadi perempuan yang sendirian namun tak merasa kesepian...

jika dialah cinta, sekalipun terpisah... aku tak akan pernah melupakannya.


Rabu, 25 Januari 2012

Padang luas....

Akhir januari....harusnya milikku, awal tahun yang basah... teriknya matahari hanya sebentar lalu hujan menyerang Bumi, mengecup tanah, liar, penuh cinta.
lalu aku masih disini, sudahkah kubilang aku Dandelion yang mengikuti kemanapun angin berhembus? yeah.... setiapkali ditiup angin, aku akan istirahat sejenak di tempat-tempat yang luar biasa...hati seseorang...padang luas dimana aku akan merasa begitu dicintai...entah sejenak atau bertahan lama... tak tahu kapan perjalananku kan terhenti, setiap kali kuyakinkan padang luas itu adalah rumahku, nyatanya bukan... kenyamanan di padang luas tak abadi, entah karena memang bukan diperuntukkan buatku, aku yang tak pernah betah lama disana ataukah padang luas menghempasku kedimensi yang lain karna tak lagi menginginkanku...... entahlah....

Padang luas kali ini, rumputnya hijau segar, hangat, nyaman, mendekapku perlahan namun sedikit hujan saja sanggup membuatnya layu....hmmm,  rupanya padang luas inipun sepertinya akan berhenti....berhenti mengikatku, berhenti mencintaiku. ah, sudahlah...selalu begitu... paling-paling angin utara akan meniupku ke tempat-tampat selanjutnya...meskipun aku telah begitu letih.

rasanya, mencintai di era modern  seperti mampir ke cafe demi cafe hanya untuk menyeruput kopi pahit di malam buta, menikmatinya...lalu beranjak pergi.

yeah, mungkin harusnya seperti itu.....mencintai, menggebu-gebu, lalu lupakan.

Minggu, 08 Januari 2012

Januariku

Malam di Januariku,  takkan kuhabiskan dengan berdiam diri di kamar remang - remang pembawa mimpi buruk...karna kakiku kan terus melangkah ketempat yang mereka bilang arena penembus ruang dan waktu... kusebut ini kebebasan, ketika jemariku tak berhenti torehkan kata demi kata dalam kegalauan yang tak tampak, ada yang ingin mengalir tepat dikerah bajumu jika saja kau mendekapku malam ini...mereka menyebutnya airmata... .muara kesedihan yang tak juga kau mengerti dari tatapanku hari demi hari...  kau bilang, suatu saat....akan ada cinta untukmu disana.

Kamis, 06 Oktober 2011

Surat cinta dari tanah......

Pada suatu ketika, awan hitam memanggil angin utara lalu mengirim rintik hujan untuk membasahi tanah yang telah berabad-abad retak karena mengering...   tanahpun serentak menulis surat pada sang awan...

aku mencintaimu awan...
layaknya banyak hal kelam, gelap, terlarang di dunia ini yang patut dicintai...yang diam membisu tepat antara jiwa dan bayanganmu...lalu aku bahagia di dalamnya, meskipun hanya sepersekian detik dari perjalanan waktu..

aku mencintaimu awan...
seperti aku mencintai jumatku, hari akbar ketika seorang istri berlarian ke pasar hendak memasak enak untuk suaminya lalu lupa bahwa dia tak pintar masak dan suaminya tak lagi ada... adakah cara lain untuk mencintai selain yang tak wajar seperti ini? memisahkan jiwa dari tubuhku, membiarkannya berkelana mengikutimu, lalu kembali saat senja pergi, sebelum malam datang...

aku mencintaimu awan...
lalu tak paham, entah bagaimana, kapan, dan darimana datangnya...yang kutahu hanyalah... tak ada kegamangan, keangkuhan, bayang kesedihan, tak kunjung mengerti, tak terlampau mengenalmu, lalu tersenyum bahagia ketika tahu kau melihat bunga anggrek mekar dari dalam perutku... setelah itu aku akan pergi menghilang...mencintaimu seperti ini saja...sudah cukup.

aku mencintaimu awan....
serupa ayat demi ayat kala sepertigamalam membangunkanku dari mimpi mengecupmu....kugantungkan hasrat menyentuhmu disana...pada purnama ketika langit ketujuh mendung, nyaris menangis...
mereka bilang, disanalah....tempat para kekasih yang tak dapat bertemu didunia, saling memeluk.

sudahkah aku bilang aku mencintaimu awan?
jika kukatakan sekarang, bilakah terlampau terlambat lalu sia-sia?
andaikan tak kukatakan, apakah sama saja?
entahlah....

terimakasih untuk hujan yang kau kirim, rinainya kini berakhir di kedua bola mataku, berharap menjadi pelangi di selaksa senyummu.

Jumat, 23 September 2011

Pemilik surat kusam.....

Makassar dua tahun silam, hujan deras tak kunjung berhenti namun Desember di kota kenangan kala itu sama sekali tak kelabu bagiku....

"selamat Yu...jadilah dokter yang baik..." ucapnya ketika aku menelponnya malam itu, "makasih dok...mohon bimbingannya..." tukasku..,"pasti...beritahu aku jika kau butuh sesuatu...dan sampaikan salamku buat mama dan adik-adikmu.." katanya kemudian, suara lembutnya begitu berwibawa....ah, perempuan itu...tanpa disadarinya telah mengajarkanku makna 'ikhlas'... perempuan pemilik surat kusam yang ditulis puluhan yang lalu, surat yang kutemukan dilaci meja Papa beberapa tahun silam dan masih kusimpan agar tak dibaca siapapun....

"tak akan pernah kutanyakan alasan mengapa kau meninggalkanku... Ayu....nama yang cantik, sampaikan salamku untuk anakmu, juga istrimu...kudoakan semoga kau selalu bahagia.." beberapa kata dalam surat itu yang masih terekam di otakku yang tak mampu kupahami di usiaku saat itu.....

rupanya, perempuan itu... pernah begitu mencintai papaku, dapat kumengerti tatapannya kali ini padaku, tatapan penuh kerinduan...tatapan dari seorang perempuan yang punya cara mencintai yang masih tak mampu kumengerti....."kau mirip papamu..." katanya di suatu sore yang mendung disaat aku menemuinya di kliniknya...aku terdiam, berharap dia tak membenci laki-laki yang paling kusayangi di jagad raya ini...laki-laki yang meninggalkannya untuk menikahi perempuan lain...perempuan yang kupanggil Mama... Laki-laki yang hingga menghembuskan napas terakhirnya tak pernah menjadi miliknya...kutemukan alasan mengapa perempuan itu baru menikah setelah usiaku 15 tahun....butuh waktu begitu lama baginya untuk membuka hati.... "papaku ingin aku jadi dokter sepertimu..." ucapku pelan ketika pertama kali aku dipertemukan dengannya tujuh tahun silam, dia menatapku, "aku akan membantumu.." ucapnya, lantas tersenyum....
 kini aku mengerti, alasan papa ingin aku menginjakkan kaki di kota ini...hmmm.....setiap sudut punya cerita, setiap cerita punya makna......

sementara dibelahan bumi yang lain kekeringan, disini...Ternate, dikota kecil ini...hujan enggan berhenti...rintiknya menutupi dentingan 'Lettre a ma mere' yang menyayat hati...
kucoba menghubunginya setelah sekian lama pergi..."hallo...ayu?" suara perempuan itu lembut menyapa..."apa kabar dok?" tanyaku pelan..."kabar baik...kamu gimana kabarnya'" tanyanya sumringah...baik...mmm...aku butuh bantuanmu..."ucapku pelan.."bantu apa sayang?" tanyanya ramah..."ajarkan aku...untuk bisa hidup sepertimu...." suaraku bergetar...rasanya airmataku begitu ingin tumpah ruah....

Rabb-ku Maha adil, yang kutahu...tak ada karma di dunia ini....hanya saja, kini aku mengerti...bahwa setiap tetes airmata yang pernah dititikkan seorang perempuan, suatu saat akan diminta pertanggungjawabannya...
Papaku, begitu baik disetiap sentuhannya pada kehidupan....hingga jika ada hati yang tanpa disadarinya terluka karenanya...maka, aku...putri sulungnya...siap menanggungnya.

Jumat, 16 September 2011

Jumat demi Jumat kala itu....

Makassar, Jumat 15 Agustus 2008, 20:00 WITA
Hujan deras...kulihat kau tengadahkan tanganmu diatas kepalaku menghalau hujan...seakan rintik hujan serupa paku tajam yang akan melukaiku, "ikutlah bersamaku!" ucapmu pelan, tersenyum kecil namun cukup untuk memikatku...lalu kau ulurkan tanganmu untuk kugenggam...kau menatapku seakan jika kuraih jemarimu maka telah kuserahkan hidupku padamu...

hmm, ini bukan cinta...ini sopan santun.

Makassar, Jumat 16 Oktober 2009, 18:00 WITA
kau membawaku menemui senja yang bersembunyi...seakan kau ingin aku tahu bahwa banyak hal indah di dunia ini yang kadang tak terlihat...sekejap kau menjelma laksana bait-bait puisi, serupa denyut jantung...hatiku bergetar, perlahan... kau lantas mencuri jutaan detik dari waktu yang kupunya hanya agar aku tahu bahwa kau tak suka makanan manis dan mencintai kopi pahit....
ah, mungkin aku salah, ini tak berarti cinta.....

entah dmana ini....Jumat 7 April 2010, 05:30 WIT
subuh....suaramu bergetar... kau ceritakan padaku makna kehilangan...kau tersenyum atas kehilangan yang kau alami...kau bilang ada kehilangan yang tak butuh kata perpisahan ataupun airmata...menyadarkanku, bahwa kematian bukanlah kehilangan terbesar.... "tetaplah bersamaku..." suaramu pelan...

sudahlah...ini belum tentu cinta, tapi rasa iba....

tak tahu dimana....Jumat 21 Agustus 2010 05:00 WIT
airmataku tumpah...saat kau bilang tak ada pilihan bagimu selain pergi...antara kita hanya ada ketidakmungkinan demi ketidakmungkinan....hmmm, rupanya jarak dan waktu mengalahkan kita.... aku menangis sebenar-benarnya...tangisan yang bahkan tak kukira sebelumnya...

entahlah, masih kuberharap ini bukan cinta.

Ternate, Jumat 31 Desember 2010 WIT
"menikahlah denganku...rupanya..mencoba menjauhimu seperti mendzolimi diri sendiri...", katamu pelan....

terdiam, kusangsikan cinta.

aku lupa ini dimana.....Jumat 11 Maret 2011 WIT

kau menemuiku dengan mata sendu, seakan kau sembunyikan banyak hal dariku....entah kehidupan seperti apa yang telah kau jalani...
"pergilah!" mataku seakan berbicara menahan perih.... tak ada lagi airmata, hanya lubang menganga dihatiku...

rupanya, aku mencintaimu.

kita di kota kenangan.......

Makassar..setiap sudut punya cerita, setiap cerita punya makna...aku rindu setiap detilnya, bahkan pada polusi maupun pemulung, aku rindu setiap incinya, pada air yg tergenang kala hujan, pd teriknya matahari, pada debu jalanan, pada kemegahan maupun keramaian kota yg tak pernah mati..aku rindu lembayung fajar, senja berwarna jingga, maupun bulan cantik dimalam yg tak pernah tidur... Aku rindu senyumanmu, tawanya, canda mereka juga tangisanku.. Entahlah...Apapun itu,
Aku rindu kita di kota kenangan...

(October 22, 2010 at 8:30pm)

Kamis, 08 September 2011

Cinta dari balik jendela kaca......

Malam dibirunya Agustus...bulan sabit menyembul malu-malu dari balik awan hitam, tampak buram kala terlihat dibalik jendela kaca....dentingan 'A comme amour' menambah miris suasana cafe temaram itu... di bangku kayu bercat putih dengan meja berhiaskan Viola Grypoceras laki-laki itu tak juga beranjak, ditatap lekat-lekat perempuan di depannya...perempuan yang telah lama kehilangan senyumnya, perempuan bertubuh ringkih dengan mata sembab yang menerawang jauh, pikirannya berkelana entah kemana... ah, betapa dia merindukan perempuan itu...perempuan yang membuatnya tak pernah membuka hati untuk siapapun, perempuan yang mendatangi malam-malamnya diluar kendalinya...perempuan yang terus saja dicintainya...

"makanlah biar sedikit..." disodorkannya sepiring Chicken steak kearah perempuan itu yang langsung disambut dengan gelengan kepala..."kau memanggilku kesini hanya untuk menyuruhku makan?" tanya perempuan itu sarkastis..."apa lagi yang harus kulakukan untukmu?" ujar laki-laki itu mulai putus asa..." mudah....lepaskan saja aku..", ucap perempuan itu pelan namun cukup munghujam jantung..."tak akan pernah!" kata laki-laki itu ketus, diiringi desahan panjang...lalu memalingkan wajahnya menatap gerimis dari balik jendela kaca..."perlukah aku memohon padamu untuk tetap disini?" tercekak suaranya, namun perempuan itu seakan tak perduli, tetap terdiam..."sampai kapan kau akan hidup seperti ini? berhentilah menunggunya...hiduplah bersamaku.." lirih penuh harap, suara laki-laki itu tertutupi gelegar gemuruh..."bagaimana jika aku tak bisa?" ucap perempuan itu pelan, suaranya bergetar, mata sembabnya berkaca-kaca menatap tajam menembus hingga ke relung hati, laki-laki itu susah payah tersenyum, menahan perih..."masih ada hari esok, suatu saat kau akan mencintaiku" ... hening, malam seakan membisu... "yeah, kau benar...masih ada hari esok, suatu saat dia akan datang" ucap perempuan itu kemudian, matanya kembali menerawang jauh pada selaksa senyum dari laki-laki berkulit legam yang dirindukannya...
hujan semakin deras, memerangkapkan dua insan dalam pikirannya masing-masing sementara perih terus menelusup jiwa... ah, waktu merubah segalanya, tapi tidak untuk rasa.

tak jauh, disudut sana...tak ada yang menyadari...sepasang mata sayu milik perempuan berkerudung ungu menatap dari balik jendela kaca berembun... pandangannya nanar kearah laki-laki bermata penuh duka itu...laki-laki yang telah lama dicintainya...laki-laki yang tak pernah benar-benar melihatnya.... "sudahlah...masih ada hari esok, suatu saat dia akan mencintaiku" gumam perempuan itu menghibur diri, dihapusnya air keperakan diwajahnya sementara  dentingan  'A comme amour' semakin menyayat hati...dibiarkan tubuhnya basah, berharap dinginnya hujan di malamnya Agustus sanggup menghapus luka, memudarkan pahitnya kenyataan yang baru saja dilihatnya....

beratus-ratus mil jauhnya... laki-laki berlengan kokoh berkulit legam itu menatap rintik hujan dari balik jendela kaca...ingatan membawanya pada seraut wajah ayu bermata sembab dengan senyuman indah... kekasihnya yang entah dimana..."masihkah kau menungguku?" desahnya pilu pada bayangan... serentak ingatannya pudar saat aroma opor ayam yang dimasak istrinya memenuhi seisi rumah..."tak ada hari esok untuk kita, kuharap kau melupakanku" bisiknya dalam hati, berharap angin membawa bisikannya ke telinga perempuan yang pernah begitu dicintainya.... dia tersentak, kala istrinya mendekapnya hangat...penuh cinta.

hujan deras dari balik jendela kaca seakan menumpahkan kepedihan.... cinta, telah menjadi begitu menyiksa.


(Wednesday, September 7, 2011 at 4:45pm)

Jumat, 29 Juli 2011

....aku ingin mengenalnya

senja berwarna jingga menyambut malam yang dingin, gemetar...hujan deras mengaburkan gemerlapnya lampu-lampu jalan, menyapu bersih sampah, ranting kering, dedaunan,mungkin juga kenangan....lalu kulihat dia disana, dibalik gaharu,  menyimpan duka... aku tak tahu siapa dia sebenarnya, laki-laki gamang berkulit legam dengan lengan kokoh...pandangannya nanar, entah apa yang dipikirkannya... dan ketika dia menatapku, serentak jantungku berdetak demikian hebatnya....seakan aku telah lama merindunya....ah, aku tak mengenalnya... yang kutahu dia pasti lahir di bulan syaban dari rahim seorang perempuan tegar dan penuh cinta dan d didik dengan keras oleh laki-laki yang kuat... sungguh aku masih tak mengenalnya, entah kehidupan seperti apa yang menempanya hingga nyaris begitu kejam... yang kutahu hanyalah dia tumbuh menjadi laki-laki angkuh dang ambisius yang memiliki tatapan mata iblis dan senyuman malaikat... yang bisa mencintai dengan lembut sekaligus tega menyakitimu tanpa ampun....
entahlah, aku tak mengenalnya, tapi terlampau menginginkannya... apakah ini cinta atau sekedar  hasrat...aku tak tahu... tapi keinginan bersamanya begitu kuat... sekalipun kemudian aku akan dikutuk karenanya, mungkin aku tak akan menyesal... aku ingin menghabiskan setiap detik dalam perjalanan waktu untuk mengenalnya...seumur hidup untuk mengenalnya... meskipun untuk itu aku harus mati terlebih dahulu lalu dihidupkan kembali... Tuhan, aku ingin mengenalnya... berikanlah aku waktu untuk mengenalnya.

Selasa, 12 Juli 2011

...dalam diam

dentingan 'waltz butterfly score' kudengar untuk kesekian kalinya diruangan sempit ini..kali ini tak ada airmata, tak sedang berduka, tak pula sekarat karna merindu melainkan senyuman yang entah sejak kapan...aku merasa begitu damai, mungkin karna sudah dua minggu ini kulunasi hutang puasaku atau mungkn karna aku mulai pintar masak, semua memuji pizza buatanku!..ataukah karna aku mulai tenang sejak sering sholat malam...entahlah...tiba-tiba segalnyanya menjadi cukup bagiku...apa karna aku mulai menyadari bahwa mencintai kekasihku seperti ini saja sudah cukup bagiku..meskipun tanpa melihat, mendengar, menyentuh karna kekasih sebenarnya adalah dia yang meningkatkan kecintaan kita kepada sang Rabb maka sedapat mungkin kutepis benci dan asa semu karna pertemuan maupun perpisahan adalah anugerah, selalu ada alasan terbaik untuk segala sesuatu yang terjdi dalam hidupku...
kujalani kehidupan sebagaimana mestinya, menyimpan rapat-rapat kenangan karna masa lalu sungguh sesuatu yang sangat jauh, aku tak dapat mengembalikan waktu untuk memperbaiki kesalahan... maka tak ada pilihan lain selain menjalani hidup monoton ini dengan senyuman.. kadang Rabb-ku mengirimku penghibur seperti hujan yang membasahi tanah kering...hingga setiap hari menjadi kejutan untukku...kini aku mengerti, apa yang dimaksud dengan hidup lebih baik...yeah, kita tak harus bersama tapi hiduplah dengan lebih baik sayang...tak ada alasan bagi kita untuk tidak bahagia, bukankah sesekali ada gerhana dalam perputaran waktu? maka biarkan saja aku mencintaimu seperti ini...dalam diam...ada cinta yang sederhana untukmu.

Selasa, 05 Juli 2011

pernahkah dia?

jailolo duapertiga malam awal juli... mati lampu! nafasku terasa begitu sesak... sendiri dengan 'dying young'nya Kenny G seperti ini mengaktifkan pemutar kenangan di otakku dan mendatangkan pikiran2 liar, mulai dari utang tupperware yang belum kulunasi, laporan askes yg belum kusetor, pasien yg belum sembuh, kerinduanku untuk pulang, keresahan akan mimpi-mimpi buruk yang menaungiku lalu berhenti berputar tepat ketika kuterbayang wajah kekasihku... Ya Rabb, dimanakah dia? haruskah aku bertanya mengapa dia meninggalkanku begitu saja tanpa alasan? ataukah aku harus berjiwa besar untuk ikhlas menerima bahwa dia punya alasan yang kuat bahkan mungkin aku tak cukup baik untuknya ? ataukah kuanggap dia laki-laki paling kejam, menyumpahinya lalu membencinya sampai mati..? ah, entahlah...
malam mulai merampas kewarasanku, dan jari-jariku tak berhenti menyentuh layar ponselku.. aku harus mencarinya! sudah kuobrak-abrik kota kenangan tapi tetap tak kutemukan jawabannya... hingga meskipun telah begitu jauh aku terlalu naif untuk menyerah dan berhenti...
lalu dunia maya ini memperlihatkannya... Rabb, aku menemukannya, sosok yang berbeda dengan senyuman yang sama, aku begitu merindu sampai-sampai airmataku tak terkendali....
dialah kekasihku! dengan kehidupan yang asing bagiku, dia bahagia, dia sehat, dan melupakanku! sedih tapi jantungku terasa hangat...lega, ada senyuman diantara tangisku... Ya Rabb...aku bahagia bila dia bahagia..

meski terbesit tanya yang mungkin tak pernah terjawab..."sekali saja...pernahkah dia mencintaiku?"

Senin, 04 Juli 2011

puisi usang...

aneh... aku tak tahu mengapa akhir2 ini begitu merindukanmu...apa karna puisi usang yg kutemukan beberapa hari yg lalu? yang kata demi katanya menyiratkan kerinduan...
haruskah aku percaya kau pernah mencintaiku? sementara kau meninggalkanku begitu saja... yeah, kau tak mengerti betapa sulitnya kulalui hari-hari tanpamu...dunia menuntutku tersenyum saat hatiku tlah begitu patah...ini tak mudah bagiku...sungguh.
aku menikmati kesendirianku dengan kerinduan yang membuncah dan airmata yang menari... haruskah aku menuntut pertanggungjawaban untuk setiap tetes airmata atau tersenyum saja saat membaca puisi usang ini?

Minggu, 03 Juli 2011

...wanita dibalik telunjukmu....

tadi malam kulihat dia dalam mimpiku...wanita dibalik telunjukmu.... yang menyambutku ramah di tempat dimana senja terlihat begitu indah....
yang mengisahkanmu dengan mata berbinar....
yang setiap ucapannya adalah doa untukmu....
yang selalu tersenyum memandangku, membuatku merasa seperti gadis kecil....... kulafazkan janji dalam diamku, kala itu..........kala tatapannya menembus kedalaman hatiku..... dia tahu, dia mengerti... Ada cinta untukmu...

(Sunday, May 9, 2010 at 5:38pm)

Subuh kala itu.....

...subuh menjelang pagi...kuikuti perempuan berkerudung ungu, seakan tak punya banyak waktu dia mempercepat langkahnya, serentak ditutupi wajahnya seakan aku menatapnya, ah mata itu...aku mengenalnya, perempuan bermata sembab, seakan tlah lama tak pernah lelap, entah berapa banyak beban di bahunya... dia smkn mempercepat langkahnya, stngh berlari...hingga tibalah dia disana, tempat peristirahatan terakhir, entah apa yg dicarinya kulihat dia berlutut disalah satu diantaranya..."kau tahu aku mencintainya kini ikhlas melepasnya. maka kumohon relakanlah aku" bergetar suaranya lalu mata sembabnya kembali basah... Ya Tuhan, mengapa hatiku yg terasa perih.. "kamu siapanya?" terdengar ada yg menyapanya...perempuan berkerudung ungu itupun tersentak kemudian berlari pergi. .

(June 24, 2011 at 6:31pm)

berharap seperti......

Pertengahan malam...mataku tak juga terpejam, sayup kudengar suara lembutnya melantunkan ayat suci...dia memenuhi janjinya, selalu ada doa untuk kekasihnya... Dia mamaku, pelukan ringkihku mungkin tak begitu berarti... Berharap kelak bisa seperti dia.... Mengabdi pada sang kekasih, hingga ajal memisahkan...

(March 5, 2010 at 12:04am)

Wajah dibalik tiang rapuh.....

Pagi di puskesmas ini masih seperti biasanya, hanya kini dipenuhi ulat bulu entah darimana...hmm, kambing dan sapi mempertegas klo ini hutan belantara, heranx, aku mulai terbiasa...
sunyi, hujan msh tersisa..hingga kulihat dia dsana,menyembunyikan wajahx dibalik tiang rapuh, anak laki2 12 thn yg wjhnya menghitam stlh berbln minum lampren,"sini!"panggilku, ditundukkan wjhx,"sendiri?"dia terdiam,"percayalah, pasti sembuh!" dan diapun tersenyum..Ya Rabb, sembuhkanlah dia, smga kusta tak merenggut mimpinya..

(August 9, 2010 at 10:58am)

Masih mampu kuberlari......

Pagi sendu, mendung masih menyisakan rintik hujan semalam... terombang-ambing ombak kucoba pejamkan mata sejenak, menghirup aroma laut yang ditiupkan angin utara..
Pikiran dan perasaan kadang tak sejalan..seperti harapan dan kenyataan.. Kadang kupikir berlari adalah kebebasan! Yah, mungkin aku harus lari..jika tak kuingat kakek harun yg menunggu kuantarkan obat asmanya ke pesisir atau si Merlin balita gizi buruk yg harus kukontrol perkembanganx.. tak sanggup kutinggalkan mereka, meski msh mampu kuberlari..

(June 21, 2010 at 6:56am)

dia mungkin saja........

Mungkin saja dia, Yg merelakan iganya patah daripada kekasihnya disakiti..mungkin dia tak suka anak2, tp kelak dia begitu ingin memandang bintang bersama anak2x darimu, dia mungkin tak mengajakmu makan malam romantis tp membwamu ketempat paling aneh kesukaannya dan berdiskusi mengenai impiannya..dia slalu menertawai kebodohanmu sekaligus menjadikanmu mempesona..Dia tak mampu melepasmu,tapi dia tak pernah menahanmu pergi, dia takut kehilanganmu tp tak memaksamu tetap tinggal..dia, Mungkin saja kekasihmu...

(July 23, 2010 at 6:14pm)

Dia.....

dialah, yang tanpa melihat, mendengar, menyentuh, hatiku bergetar...
Semoga Tuhan memeluk mimpi kta, dalam tidurmu yg lelap dan aku yg terjaga... Suatu saat nanti
Kta pasti ke bulan, meski dengan cara yg berbeda, seperti bahagia yg pasti kan kta dekap meski tak harus bersama... Jangan lagi mengutuk waktu, meratapi takdir, cintailah malam hingga pagi datang... Tersenyumlah pada lembayung fajar, yakinlah...meski tak terlihat, terdengar, tersentuh...perih ini menandakan Rasa itu hidup dan pernah ada...


(September 19, 2010 at 1:11am)

Entri Populer